Fenomena Langka Tornado Terjang Hubei, China Siaga Hujan Ekstrem-Angin Topan

Fenomena Langka Tornado Terjang Hubei, China Siaga Hujan Ekstrem-Angin Topan
Ilustrasi tornado China. Foto: AFP/STR
Ilustrasi tornado China. Foto: AFP/STR

Provinsi Hubei, salah satu pusat industri, manufaktur otomotif, dan teknologi terbesar di China, dilanda tornado yang tergolong sangat langka. Fenomena cuaca ekstrem ini terjadi ketika negara tersebut menghadapi peningkatan frekuensi bencana alam yang dikaitkan para ilmuwan dengan perubahan iklim.

Pakar dari Biro Meteorologi Provinsi Hubei, Wang Xiaoling, mengatakan kepada Hubei Daily bahwa tornado hampir tidak pernah terjadi di wilayah tersebut. Sebelum kejadian kali ini, tornado terakhir di Hubei tercatat pada Mei 2021.

China kini semakin rentan terhadap berbagai cuaca ekstrem akibat perubahan iklim. Hujan deras, gelombang panas, hingga angin kencang setiap tahun menyebabkan kerugian ekonomi mencapai puluhan miliar dolar AS. Dampaknya tidak hanya mengganggu aktivitas industri, tetapi juga merusak lahan pertanian.

Menurut laporan Reuters, tornado kali ini merusak berbagai fasilitas, termasuk bangunan, kendaraan, jalan, lampu kota, dan masih banyak lagi. Pusat Meteorologi Nasional China memperingatkan bahwa wilayah timur laut Hubei masih berpotensi diguyur hujan lebat hingga sangat lebat pada Selasa (7/7) waktu setempat.

Peringatan serupa juga dikeluarkan untuk sejumlah wilayah lain, termasuk Guangxi, Guangdong, Hainan, serta provinsi Jilin, Shandong, dan Liaoning. Wilayah Guangxi, yang baru saja dihantam Topan Maysak, diperkirakan akan menerima curah hujan hingga 260 milimeter dalam 24 jam ke depan. Intensitas hujan setinggi itu berpotensi memicu tanah longsor.

Topan Maysak telah menewaskan sedikitnya empat orang di ibu kota Guangxi, Nanning, dalam beberapa hari terakhir. Di sisi lain, media pemerintah China melaporkan 16 orang masih dinyatakan hilang setelah tanah longsor menerjang sebuah kabupaten pegunungan di Provinsi Gansu, China barat. Sebanyak 33 orang dilaporkan terseret longsor yang terjadi pada Selasa (7/7) dini hari.

Presiden China, Xi Jinping, meminta seluruh pihak mengerahkan upaya maksimal untuk menyelamatkan para korban banjir dan bencana alam lainnya, sebagaimana dilaporkan CCTV.

China dan Taiwan Bersiap Hadapi Topan Super Bavi

Selain banjir dan hujan ekstrem, China juga tengah bersiap menghadapi Topan Super Bavi yang bergerak melintasi Samudra Pasifik menuju Taiwan dan diperkirakan akan mencapai pesisir timur China pada akhir pekan ini. Otoritas cuaca Taiwan memperkirakan dampak topan mulai dirasakan pada Jumat (10/7), sementara hujan dan angin terkuat diprediksi terjadi pada Jumat malam hingga Sabtu (11/7).

Sekretaris Jenderal Kabinet Taiwan, Xavier Chang, melalui unggahan di Facebook, mengatakan Bavi berpotensi membawa curah hujan sangat lebat di sejumlah wilayah pulau tersebut. Sebanyak hampir 29.000 personel militer telah disiagakan untuk membantu proses evakuasi dan penanggulangan bencana apabila diperlukan.

Biro cuaca Taiwan memperkirakan, kekuatan Bavi akan sedikit melemah saat mendekati Taiwan bagian utara. Namun, badai tersebut diprediksi tetap berstatus topan berukuran besar dengan intensitas berkisar antara kategori sedang hingga kuat.

Sebelumnya, saat melintasi wilayah Guam, Tinian, Saipan, dan Rota pada Senin (6/7), Topan Super Bavi membawa embusan angin hingga 289 kilometer per jam.