Ketika Generasi Saling Menjatuhkan: Antara Diskredit dan Hasrat Diakui

 0  0
Ketika Generasi Saling Menjatuhkan: Antara Diskredit dan Hasrat Diakui
Ilustrasi generasi muda dan generasi tua. Gambar oleh Todor Tsvetkov/Getty Images.
Ilustrasi generasi muda dan generasi tua. Gambar oleh Todor Tsvetkov/Getty Images.

Ketika sedang berselancar di lini masa media sosial, kita sering menemukan kalimat-kalimat yang terasa akrab sekaligus problematis: “Generasi sekarang lemah,” atau sebaliknya, “Generasi dulu kolot dan tidak relevan.” Di tengah arus itu, muncul pula individu yang dengan percaya diri berkata, “Aku beda dari yang lain,” seakan-akan menjauh dari kelompoknya sendiri adalah sebuah keunggulan.

Fenomena ini bukan sekadar perbedaan pendapat antargenerasi. Ia mencerminkan sesuatu yang lebih dalam: kecenderungan untuk mendiskreditkan, sekaligus kebutuhan kuat untuk diakui. Dalam ruang sosial yang semakin terbuka tapi juga kompetitif, pengakuan tidak lagi datang secara natural. Pengakuan tersebut diperebutkan, bahkan jika harus dengan cara merendahkan yang lain.

Diskredit Generasi: Konflik Lama dalam Wajah Baru

Ilustrasi konflik. Foto: Shutterstock
Ilustrasi konflik. Foto: Shutterstock

Diskredit generasi sejatinya bukan hal baru. Hampir setiap generasi dalam sejarah pernah merasa lebih “tangguh” atau lebih “benar” dibanding generasi setelahnya. Namun, yang membedakan hari ini adalah ruang amplifikasi yang jauh lebih besar.

Media sosial tidak hanya mempertemukan perbedaan, tetapi juga mempercepat konflik dan menyederhanakan kompleksitas. Label menjadi alat yang mudah digunakan: generasi manja, generasi tidak tahan banting, hingga generasi krisis mental.

Label-label ini mungkin terasa memuaskan secara emosional, tetapi sering kali mengabaikan realitas sosial yang jauh lebih kompleks. Realitas itu dapat dimulai dari tekanan akademik, ketidakpastian ekonomi, hingga perubahan lanskap budaya kerja.

Akibatnya, perbedaan generasi tidak lagi dilihat sebagai dinamika yang wajar, tetapi sebagai alasan untuk saling mendiskreditkan.

Fenomena Pick Me dan Krisis Pengakuan

Ilustrasi Gen Z. Foto: Odua Images/Shutterstock
Ilustrasi Gen Z. Foto: Odua Images/Shutterstock

Di sisi lain, muncul fenomena yang populer disebut sebagai pick me. Istilah ini merujuk pada individu yang berusaha mendapatkan pengakuan dengan cara menjatuhkan kelompoknya sendiri.

Kita melihatnya dalam berbagai bentuk: “Aku Gen Z, tapi tidak seperti Gen Z lain,” atau “Aku tidak seperti anak muda kebanyakan.” Sekilas, ini tampak seperti ekspresi individualitas. Namun, jika ditelusuri lebih jauh, ia sering berakar pada kebutuhan untuk diterima, bahkan jika itu berarti mengambil jarak dari identitas kolektifnya sendiri.

Di sinilah benang merahnya terlihat jelas: baik diskredit generasi maupun budaya pick me sama-sama berangkat dari krisis pengakuan. Ketika ruang untuk diakui terasa sempit, sebagian individu memilih jalan pintas, yakni menonjol dengan cara merendahkan yang lain. Dalam jangka panjang, pola ini tidak hanya merusak relasi sosial, tetapi juga memperkuat rasa tidak aman secara kolektif.

Pendidikan, Hierarki, dan Gagalnya Ruang Dialog

Jika ditarik lebih jauh, kita perlu bertanya: Apakah sistem sosial kita benar-benar menyediakan ruang dialog yang setara antargenerasi?

Dalam banyak konteks, sebagai contoh dalam dunia pendidikan, relasi yang dibangun masih bersifat hierarkis. Suara yang lebih muda sering kali diposisikan sebagai pihak yang “harus mendengar,” bukan “layak didengar”. Kritik dianggap sebagai pembangkangan, sementara pengalaman dianggap sebagai kebenaran yang tidak perlu dipertanyakan.

Pendidikan seharusnya menjadi titik awal pembentukan manusia yang dapat menerima perbedaan dan terbuka atas dialog. Bukan sekadar patuh mematuhi. Sejak kecil, jika seseorang ditanamkan sifat saling mengerti satu sama lain, ia akan berusaha untuk menciptakan masyarakat yang saling menghormati pula antara satu dengan yang lainnya.

Ketika ruang dialog tersebut tidak hadir, jarak antargenerasi menjadi semakin lebar. Media sosial kemudian hadir sebagai alternatif, tetapi tanpa fondasi etika dialog yang kuat, ia justru memperparah keadaan. Algoritma cenderung menguatkan emosi, bukan pemahaman. Dalam situasi seperti ini, diskredit dan sikap “pick me” bukan lagi sekadar pilihan individu, melainkan juga produk dari ekosistem sosial yang belum sehat.

Dalam tradisi pendidikan Islam, terdapat nasihat universal yang sering dikaitkan dengan Ali bin Abi Thalib ra:Didiklah anak sesuai dengan zamannya, karena mereka hidup pada zamannya, bukan pada zamanmu.

Kalimat ini menegaskan bahwa pendidikan harus adaptif terhadap perubahan zaman, bukan terjebak pada cara pandang generasi sebelumnya.

Konklusi

Ilustrasi keluarga tiga generasi. Foto: Hananeko_Studio/Shutterstock
Ilustrasi keluarga tiga generasi. Foto: Hananeko_Studio/Shutterstock

Pada akhirnya, persoalan ini bukan tentang generasi mana yang lebih unggul, atau siapa yang paling “berbeda”. Hal ini tentang bagaimana kita membangun ruang sosial yang tidak memaksa individu untuk menjatuhkan orang lain demi merasa diakui.

Pengakuan seharusnya tidak lahir dari perbandingan yang merendahkan, tetapi dari pemahaman yang setara. Jika setiap generasi terus terjebak dalam kebutuhan untuk membuktikan diri dengan cara mendiskreditkan yang lain, yang kita wariskan bukanlah kemajuan, melainkan konflik yang berulang.

Sebaliknya, ketika kita mulai membuka ruang dialog yang lebih inklusif—di mana perbedaan tidak dipertentangkan, tapi dipertemukan—dari situlah generasi bukan lagi menjadi sumber konflik, melainkan sumber pembelajaran bersama.

Pada titik itu, pendidikan menemukan maknanya yang paling mendasar: tidak sekadar mencerdaskan, tetapi juga memanusiakan manusia.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0
Redaksi Kami berkomitmen memberikan pelayanan informasi yang cepat dan tepat