Mobil Listrik Bekas Mulai Dilirik, Ini yang Wajib Dicek

Pasar mobil listrik masih naik daun di dalam negeri, penjualan model barunya masih terlihat meningkat. Seiring makin banyaknya populasi kendaraan elektrik roda empat, mulai muncul unit bekas yang tak kalah menggoda.
Karena pasar mobil listrik bekas belum terbentuk sematang kendaraan konvensional, harga jualnya umumnya mengalami depresiasi cukup besar. Kondisi ini dimanfaatkan sebagian masyarakat yang ingin memiliki kendaraan listrik dengan biaya lebih terjangkau tanpa harus membeli unit baru.
Meski demikian, Pendiri EV Safe sekaligus dosen di National Battery Research Institute, Mahaendra Gofar, mengingatkan calon pembeli untuk memperhatikan sejumlah aspek penting sebelum meminang mobil listrik bekas.
Salah satu yang paling krusial adalah kondisi kesehatan baterai atau state of health (SoH). Menurutnya, momok paling dikhawatirkan dari pembeli awam mengenai kondisi baterai mobil bekas dibanding unit yang berstatus baru.
"Sebenarnya tidak berbeda jauh dengan pembelian unit baru, ya. Hanya saja ada yang perlu ditambahkan, biasanya yang harus dipertanyakan itu adalah state of health dari baterainya," buka Gofar kepada kumparan, Selasa (26/5/2026).
Namun Gofar menambahkan, rata-rata usia mobil listrik di Indonesia masih relatif muda dan belum banyak yang mencapai lima tahun. Dalam kondisi tersebut, umumnya baterai masih berada dalam kondisi yang baik apabila digunakan secara wajar.
“Degradasi baterai sekitar 1-2 persen dalam setahun. Rata-rata umur mobil listrik paling tua di sini baru 4 tahun, itu sekitar 94-95 persen yang mana artinya masih bagus kondisinya,” terang dia.
Selain itu, konsumen juga dapat mempertimbangkan merek yang memiliki layanan purna jual mumpuni. Hal ini penting agar pemilik kendaraan listrik bekas tidak kesulitan saat membutuhkan perbaikan maupun melakukan klaim garansi.
“Layanan purnajual bisa jadi pertimbangan, bisa condong ke merek yang memang sudah punya jaringan penjualan dan perawatan cukup banyak. Ini berguna buat unit yang status garansinya bisa berpindah tangan, jadi lumayan kan dapat unit masih ada sisa garansi dan bisa diklaim ke pabrikan,” papar Gofar.
Selain baterai, kondisi eksterior, interior, hingga kaki-kaki kendaraan tetap perlu diperiksa sebagaimana membeli mobil pada umumnya. Khusus mobil listrik, pemeriksaan perangkat lunak atau software menjadi poin tambahan yang tak boleh diabaikan.
“Pemeriksaan software karena mobil listrik sekarang biasanya menggunakan komputer. Jadi tinggal scan OBD, buat yang ingin inspeksi mobil listrik bekas disarankan membawa teknisi atau inspector,” ucap Gofar.
Di luar kondisi kendaraan, Gofar menyebut calon pembeli mobil listrik bekas juga perlu memikirkan kesiapan infrastruktur pendukung di tempat tinggal masing-masing. Misalnya ketersediaan akses daya listrik dan pengisian baterai harian.
“Hal lain tentu saja perhatikan infrastruktur pendukung. Misalnya apakah rumah atau tempat tinggal sudah bisa memenuhi pengisian daya ke mobil listrik nantinya, meski ini bisa diakali dengan cas di SPKLU,” tutup Gofar.







