Iran Kaji Proposal AS, Negosiasi Akhiri Konflik Teluk Masuki Tahap Krusial

 0  0
Iran Kaji Proposal AS, Negosiasi Akhiri Konflik Teluk Masuki Tahap Krusial
Kapal dan perahu di Selat Hormuz di lepas pantai Musandam, Oman, Senin (20/4/2026). Foto: REUTERS
Kapal dan perahu di Selat Hormuz di lepas pantai Musandam, Oman, Senin (20/4/2026). Foto: REUTERS

Iran menyatakan sedang meninjau proposal baru dari Amerika Serikat terkait upaya mengakhiri konflik di kawasan Teluk.

Langkah ini muncul setelah sejumlah sumber menyebut Washington dan Teheran hampir mencapai kesepakatan awal dalam bentuk memorandum satu halaman.

Dikutip dari Reuters, Kamis (7/5), seorang juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran mengatakan, Teheran akan segera menyampaikan tanggapan melalui Pakistan, yang menjadi mediator utama dalam komunikasi kedua pihak.

Kesepakatan Awal dan Peran Pakistan

Sumber dari Pakistan dan pihak lain yang mengetahui proses mediasi mengonfirmasi adanya usulan memorandum 14 poin untuk mengakhiri konflik.

Dokumen tersebut disebut akan menjadi dasar penghentian perang, dengan pembahasan lanjutan mencakup pembukaan blokade Selat Hormuz, pencabutan sanksi AS terhadap Iran, serta pembatasan program nuklir Iran.

"Kita akan segera menyelesaikan ini. Kita sudah hampir mencapai kesepakatan," kata sumber dari Pakistan.

Pernyataan Trump dan Tekanan ke Iran

Presiden AS Donald Trump menyatakan Iran menunjukkan keinginan untuk bernegosiasi.

"Kita berurusan dengan orang-orang yang sangat ingin membuat kesepakatan, dan kita akan melihat apakah mereka dapat membuat kesepakatan yang memuaskan bagi kita," kata Trump di Gedung Putih.

Dalam pernyataan terpisah, Trump menyinggung kemungkinan penghentian operasi militer jika kesepakatan tercapai.

"Jika mereka tidak setuju, pemboman akan dimulai, dan sayangnya, akan jauh lebih tinggi dan lebih intensif daripada sebelumnya," katanya.

Presiden AS Donald Trump disambut PM Israel Benjamin Netanyahu saat tiba di Bandara Internasional Ben Gurion, Israel, Senin (13/10/2025). Foto: Evelyn Hockstein/REUTERS
Presiden AS Donald Trump disambut PM Israel Benjamin Netanyahu saat tiba di Bandara Internasional Ben Gurion, Israel, Senin (13/10/2025). Foto: Evelyn Hockstein/REUTERS

Israel Soroti Isu Nuklir

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyatakan akan berbicara dengan Trump dan menegaskan posisi bahwa seluruh uranium yang diperkaya harus dikeluarkan dari Iran.

Iran membantah memiliki ambisi untuk mengembangkan senjata nuklir.

Dampak ke Pasar Global

Laporan mengenai potensi kesepakatan tersebut langsung memengaruhi pasar energi global.

Harga minyak mentah Brent sempat turun sekitar 11% ke level terendah dalam dua minggu sebelum kembali pulih sebagian.

Selain itu, pasar saham global menguat dan imbal hasil obligasi menurun seiring meningkatnya optimisme berakhirnya konflik.

Kapal dan tanker di Selat Hormuz di lepas pantai Musandam, Oman, Sabtu (18/4/2026). Foto: STR/ REUTERS
Kapal dan tanker di Selat Hormuz di lepas pantai Musandam, Oman, Sabtu (18/4/2026). Foto: STR/ REUTERS

Insiden Militer dan Ketegangan di Lapangan

Di tengah proses diplomasi, ketegangan di lapangan masih terjadi. Militer AS dilaporkan menembak kapal tanker berbendera Iran yang melanggar blokade di Selat Hormuz hingga lumpuh.

Trump sempat menghentikan misi angkatan laut untuk membuka kembali jalur tersebut, dengan alasan adanya kemajuan dalam perundingan.

Negosiasi Lanjutan dan Isu Krusial

Sumber menyebut jika kesepakatan awal disetujui, kedua pihak akan memasuki masa negosiasi lanjutan selama 30 hari untuk mencapai kesepakatan penuh.

Namun, sejumlah isu penting belum dibahas secara rinci, termasuk program rudal Iran dan dukungan terhadap kelompok milisi di kawasan.

Persediaan uranium Iran yang telah diperkaya juga belum menjadi bagian utama dalam proposal awal tersebut.

Tentara Pakistan berpatroli di D Chowk dekat Istana Presiden, saat Pakistan bersiap menjadi tuan rumah bagi AS dan Iran untuk fase kedua pembicaraan perdamaian di Islamabad, Pakistan, Senin (21/4/2026). Foto: Akhtar Soomro/REUTERS
Tentara Pakistan berpatroli di D Chowk dekat Istana Presiden, saat Pakistan bersiap menjadi tuan rumah bagi AS dan Iran untuk fase kedua pembicaraan perdamaian di Islamabad, Pakistan, Senin (21/4/2026). Foto: Akhtar Soomro/REUTERS

Respons dari Iran

Sejumlah pihak di Iran masih meragukan proposal tersebut. Anggota Parlemen Iran Ebrahim Rezaei menyebut, usulan itu lebih mencerminkan kepentingan Amerika Serikat.

"Amerika tidak akan mendapatkan apa pun dalam perang yang mereka kalahkan yang belum mereka peroleh dalam negosiasi tatap muka," kata Ebrahim.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0
Redaksi Kami berkomitmen memberikan pelayanan informasi yang cepat dan tepat